Produksi jagung Grobogan tahun ini diharapkan dapat mencapai perolehan seperti tahun lalu. Agar hasil panen tanaman tersebut dapat dilempar ke berbagai pelosok Indonesia. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Grobogan, Edhie Sudaryanto mengatakan pada 2011 diperkirakan produksi Grobogan tidak jauh berbeda dari produksi tahun 2010. Sebagian besar jagung Grobogan diserap oleh perusahaan makanan ternak dan perusahaan yang mengunakan bahan baku jagung.

”Grobogan merupakan daerah produsen jagung terbesar di Jateng bahkan Indonesia , dan produktivitasnya juga cukup tinggi dibanding daerah lain,” kata Edhy.

Mengenai produksi, lanjutnya, jagung hibrida daerah itu tahun 2010 lalu  mencapai sekitar 717.959 ton di lahan seluas 132.756 hektar, yang tersebar di 19 kecamatan yang ada. Dari 19 kecamatan, Geyer merupakan kecamatan penghasil jagung terbesar. Yaitu mencapai 131.310 ton dari lahan 24.229 hektar.

”Kecamatan Geyer diuntungkan karena ada lahan bekas tebang milik Perhutani yang ditanami jagung petani anggota LMDH. Sedangkan Godong merupakan kecamatan penghasil jagung terkecil, hanya 672 ton dari lahan yang ada 120 hektar. Kecamatan itu karena merupakan daerah irigasi teknis terluas di Grobogan,” terang Edhy.

Dirinya menambahkan produksi jagung Grobogan mampu menguasai pasar di Provinsi Jateng. Bahkan jenis palawija itu juga dikirim ke luar Jateng seperti Jabar, Jatim, DKI, Lampung dan Gorontalo. Selain produksinya cukup besar, jagung asal Grobogan kualitasnya cukup baik karena berasal dari bibit unggul hibrida.

”Sehingga banyak perusahaan makanan ternak menggunakan bahan baku jagung produksi Grobogan,” ungkapnya.