Pada awal masa tanam ( MT ) II di Kabupaten Grobogan terutama di Kecamatan Tawangharjo hasilnya kurang memuaskan. Pasalnya dari hasil panen MT II , padi yang dihasilkan hanya mendapatkan separo dari panen pada MT I, akibat hama tikus dan wereng putih tersebut hasil panen MT II hanya menghasilkan tiga ton setiap hektarnya. Sedangkan pada MT I hasil panen mendapatkan 6 hingga 8 ton setiap hektarnya. ( Jawa Pos, Radar Kudus , 21 Mei 2012 ).

Mencermati hal tersebut dan memperingati hari lingkungan hidup sedunia menjadi momen penting yang harus kita pikirkan bersama untuk mengembangkan predator alami tikus sawah di Kabupaten Grobogan. Perlu kita sadari bahwa hama tikus merupakan ancaman yang serius di Kabupaten yang memiliki potensi terbesar dalam pertanian di Jawa Tengah ini. Pada edisi yang lalu telah disampaikan mengenai pengendalian hama tikus sawah yang bisa dilakukan antara lain melalui TBS (Trap Barrier System), gropyokan, pengumpanan, pemasangan jaring, penggenangan, sanitasi, pengendalian hayati, dan pengaturan pola tanam.

Dari berbagai metoda tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Metode tersebut misalnya pengumpanan menggunakan rodentisida yang merupakan racun kimia secara terus menerus untuk mengendalikan berbagai hama dan penyakit telah menimbulkan berbagai masalah baru, terutama bagi lingkungan. Penggunaan racun tikus memiliki resiko yang lebih besar karena substansi racunnya memiliki kemungkinan yang lebih besar terjadinya kontak dengan manusia , hewan peliharaan dan ternak baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka pengembangan predator alami perlu kita pikirkan bersama untuk lingkungan yang lebih baik.

Tikus sawah memiliki predator alami yaitu misalnya burung hantu. Burung hantu sudah lama dikenal sebagai sahabat petani. Ini bukan  berlebihan sebab dengan makanan utama tikus. Burung hantu dapat membebaskan petani dari gangguan tikus sawah yang cukup merusak tanaman. Apalagi ditunjang dengan kemampuan burung hantu untuk bisa menangkap tikus dengan cepat dan melahap beberapa ekor tikus dalam sehari,  membuat penumpasan hama pengerat ini lebih cepat. Dengan cara sederhana, petani dapat mengembangkan pagupon atau rumah-rumahan untuk tempat berteduh bagi burung hantu. Dalam sehari, beberapa ekor tikus dapat ditangkap dan dilahap oleh burung hantu ini. Selain dapat membantu pemberantasan hama tikus, burung hantu juga tidak berdampak kimia terhadap tanah dan pertanian sehingga sangat membantu petani. Sebagai predator alami, burung hantu sangat efektif membunuh tikus serta mengendalikan perkembangbiakannya.

Manfaat yang diperoleh dari burung hantu sebagai predator alami tikus sawah maka perlu dipikirkan pengembangan burung hantu di areal persawahan agar potensi pertanian yang ada di Kabupaten Grobogan dapat dipertahankan. Dengan pengembangan predator alami tikus sawah dapat memberikan alternatif sumbangan dalam kelestarian ekosistem lingkungan. Keaktifan memperbaiki kondisi lingkungan yang berorientasi demi masa depan sudah semestinya menjadi kewajiban setiap insan dimuka bumi ini. Sudah sepantasnya jika kenyamanan hidup sekarang tanpa mengesampingkan masa depan.

Ditulis oleh Ningrum dari berbagai sumber.